PERJUANGAN SEORANG BAPAK TUA...
Dalam keheningan malam di tengah kebisingan kota orang orang tertidur lelap berselimut mimpi, tapi tidak untuk seorang bapak tua ini. Ia rela menyisihkan waktu istrahat nya menjajakkan suatu dagangannya dari tempat ke tempat dimana para muda mudi sedang asik berkumpul di tengah temaramnya lampu kota,dengan segumpal harapan dagangannya habis terbeli dan pulang membawa sedikit uang demi memenuhi kebutuhan anak cucunya yang sedang menanti.
Tanpa sedikit rasa mengeluh mengobarkan semangat di sisa sisa hidupnya yang semakin menua,tak layak lagi untuk bekerja melainkan menikmati hidup. Sungguh besar pengorbanan nya demi mengais sedikit rejeki dengan tenaga yang tak lagi kuat. Hari semakin melarut menunjukkan pukul 02;00 dini hari. dengan rasa lelah mengitari kota tanpa kendaraan apa apa dan sebuah dagangan yg ia bawa kotak kecil berisikan rokok dan kopi.
Di bawah tiang ia menyandarkan diri beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan kota yang berhiaskan lampu lampu dan kendaraan yang berlalu lalang. Sesekali memejamkan mata sambil menahan rasa kantuk menunggu pembeli menghampiri segelas dua gelas kopi ataupun sebatang rokok. Ku menghampirinya dengan memesan 3 gelas kopi dengan senyum sumringah pertanda rasa syukur sedikit dagangnya terbeli. sambil mengajaknya bercanda gurau menghilangkan rasa kantuk yang kelopak matanya dengan pipi sudah mulai keriput untuk usia yang tak lagi muda, namun jiwa semangatnya melebihi jiwa muda yang pantang menyerah. Sungguh mulianya engkau melakukan pertanggungjawaban atas anak cucu dan istri ucapku dalam hati . Waktu tak terasa menunjukkan pukul 04;15 dini hari keasyikan bercanda gurau, ia pun berpamitan bergegas pulang sebab paginya ia kembali bekerja sebagai buruh panggul di sebuah pasar yang tak jauh dari kediamanya. Langkah yang tak lagi kuat sedikit membungkuk tak menghalanginya untuk tetap bekerja mengais rejeki dengan secercah harapan membawa uang hasil jerih payahnya .
Ku tertunduk malu pada diri sendri, seorang bapak tua tenaga tak lagi kuat masih saja bersemangat yang seharusnya tak lagi bekerja. Sungguh mulianya engkau pak ucapku sambil meneteskan air mata, semoga Tuhan selalu memberimu kesehatan serta kekuatan dalam menghidupi keluarga...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar